Title: Angel
Genre: Supernatural, Romance, Angst,
Rating: T
Disclaimer: SAY
Character: Revena
Feather as The Angel of Death/Raven
Valent
Rose as Cupid
Livy
Light as The Angel of Live
Kris Dawn as human
Lily
Winteras woman
Etc
Summary: “ Valent cinta itu apa?” “Cinta adalah
perasaan yang tumbuh karena rasa sayang yang begitu besar dan tulus.” / “Emm,
menurutku, cinta itu adalah Kesetian. Lalu bagaimana menurutmu.” / “Bagiku
cinta adalah pengorbanan.”
Happy Read
Don’t Like, Don’t Read
Cinta…
Perasaan yang begitu dieluk-eluk oleh manusia,
Tapi mereka tidak pernah mengerti akan artinya,
Dan tidak pernah ingin mencari tahu,
Menurutmu….
Cinta itu apa?
Malam yang suram dan dingin, sedingin
ekspresi seorang gadis yang sedang berdiri (hinggap lebih tepatnya) di puncak Highest
Tower dengan sayap, ya kalian tidak salah, ada sayap hitam yang kokoh nan
anggun sewarna dengan surai dan gaun yang menutupi seluruh tubuhnya, senyum tak
pernah tersungging dibibirnya yang pink nan lembut, air mata tak pernah
mengalir dari matanya yang tajam, wajah dingin namun terlihat cantik disaat
yang sama. Ya dialah sang malaikat kematian.
“Revena, Revena, Revena.” Panggil
sosok lain dengan sayap putih dan wajah yang ceria tak lupa nada suaranya yang
begitu bersemangat menghampiri sang malaikat kematian.
“Hn?” Revena hanya menjawab
seadaanya.
“Kau tahu aku berhasil menyatukan
satu pasangan lagi.” Kata sang malikat bersayap putih/cupid.
“Apa mereka saling mencintai?”
“Hm, tentu.” Jawab Hye Valentpenuh
keyakinan tak lupa dengan anggukan kepala yang antusias.
“Valent, menurutmu cinta itu apa?”
Tanya Revena dengan mata yang masih mengawasi kegiatan para manusia dibawah
menara tersebut.
“Cinta adalah perasaan yang tumbuh
karena rasa sayang yang begitu besar dan tulus.” Jawan Valent dengan nada yang
kelewat ceria.
“Hn, aku harus pergi sekarang, Valent.” Sahut Revena
dengan sayapnya yang sudah terentang dengan indahnya.
“Oh, kali ini siapa yang akan kau
jemput?” Tanya Valent a.k.a cupid. Namun Revena hanya diam dan langsung pergi.
“Hu~uh, dasar Revena.” Gerutu Hye Valentdan
langsung terbang entah kemana.
Ya, Kasih sayang yang begitu besar
& ketulusan
Itu juga cinta…
Tapi apa itu cukup?
Kris Dawn POV
‘Ha~h, semoga Lily menyukai bunga
ini.’ Ucapku dalam hati, dengan langkah panjang aku menyusuri jalanan menuju
rumah sakit Tokyo.
Lily Winter adalah kekasihku, dia dirawat
disana setelah mengalami kecelakaan tiga bulan lalu, dia masih koma hingga
sekarang, tapi aku akan tetap menunggunya, karena aku sangat menyayangi dan
mencintainya. Namun aku bertemu dengannya, gadis yang selalu memakai gaun hitam
dan sayap indah di punggungya. Dia berdiri di depan seorang anak laki-laki yang
terbaring bersimbah darah di jalan raya kerena tertabrak mobil. Gadis itu
mengulurkan tangannya dan disambut oleh anak laki-laki itu atau lebih tepatnya
jiwanya. Tak ada yang menyadari keberadaan mereka, bukan karena malam yang
gelap, tapi karena meraka tak bisa dilihat oleh orang biasa. Aku bisa melihatnya,
tentu karena ini bukan yang pertama kali aku melihatnya, tapi ekspressinya tak
pernah berubah, selalu dingin dan tajam. Dia membentangkan sayapnya, merengkuh
tubuh anak kecil itu hingga tertutup sepenuhnya. Angin berhembus, dingin, tapi
menenangkan saat sayapnya kembali terbantang, sayap hitam yang kokoh terlihat
indah dan menakutkan disaat yang bersamaan dan anak laki-laki itu menghilang
bersamaan dengan bentangan sayap sang malaikat. Lalu aku melanjutkan langkah
kakiku kembali setelah dia menghilang.
“Selamat malam Lyli, aku datang
lagi.” Ucap ku saat sudah sampai diruang rawat kekasihku. Aku tahu dia tidak
akan menjawab pertanyaanku, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia tahu aku
akan selalu menunggunya.
“Lyli, kau tahu, tadi aku melihat
gadis itu lagi.” Kataku sambil mengusap surai hitamnya yang penjang dan tetap
terlihat indah meski dia dalam keadaan sakit.
“……”
“Setiap melihatnya, aku selalu
teringat padamu.” Kali ini aku mengusap pipinya yang terlihat lebih tirus dan
pucat, tapi dia masih tetap cantik.
‘Dan akan selalu menjadi yang
tercantik dalam hatiku.’ Ucap Kris dalam hati.
“……”
“Aku takut dia datang padamu, aku
tidak ingin berpisah denganmu.”
“…….”
End POV
“Karena, aku terlalu mencintaimu.”
Ucap Kris, dia meraih tangan Lily dan mengecupnya lembut, penuh akan kasih
sayang. Setelahnya Kris mengecup kening Lyli.
“Selamat malam, mimpi indah, tuan
putriku.” Ucap Kris setelah mengecup kening Lyli, dia pun berjalan menuju sofa
panjang yang ada diruangan itu, membaringkan tubuhnya dan berkelana kealam
mimpi.
ϗ
ϗ
ϗ
Kris terbangun saat tengah malam, dia haus,
namun sayang sepertinya petugas rumah sakit lupa mengisi ulang tempat air
mineral dirungan ini. Kris pun memilih keluar kamar untuk membeli minuman
dimesin minuman dekat lobi. Saat Kris ingin mengambil minuman yang diinginkan,
dia melihat sesosok gadis, gadis yang sering dia lihat, gadis yang selalu
memakai gaun hitam, gadis yang tak pernah berekspresi lembut, gadis dengan
sayap hitam yang cantik dan menakutkan disaat yang sama, gadis itu sang
malaikat penjemput nyawa. Sesaat Kris terkejut saat gadis itu melewatinya dan Kris
baru sadar saat melihat arah yang dituju gadis itu, arah lorong ruang rawat Lyli.
Kris segera berlari menyusul gadis tadi dan dapat dilihatnya gadis itu tengah
berdiri di depan ruangan Lyli. Jantung Kris berdetak tidak karuan, memikirkan
berbagai kemungkinan terburuk, tidak, dia belum siap dan tak akan pernah siap
untuk kehilangan Lyli. Gadis itu menoleh ke arah ruang rawat Lyli, untuk sesaat
Kris merasa jantungnya berhenti berdetak, nafasnya terasa begitu sesak, hatinya
terasa sakit, beginikah rasanya jika akan kehilangan orang yang akan kita
cintai tepat didepan mata kita? Gadis itu sempat melirik Kris, lalu berbalik
menuju ruangan yang ada di depan ruangan Lyli. Tak beberapa lama setelah gadis
itu masuk, terdengar tangis wanita yang berusaha memanggil suaminya.
“Hiks…sayang, bangun sayang, jangan tinggalkan
aku…hiks…DOKTER, DOKTER, hiks sayang bangun…” seorang wanita paruh baya itu
terus menangis sambil memeluk tubuh suaminya yang kini mulai kejang, melemah
dan mendingin.
Kris
berlari menuju pintu tersebut, sesampainya dia didepan pintu dapat ia lihat
gadis itu tengah mengambilnya, seorang lelaki tua dengan cara memasukkan dua jari
tangannya dan menarik sebuah jiwa, ekspresi gadis itu terlihat lebih dingin
dari sebelumnya, setelah jiwa itu terambil dia tidak memeluknya seperti yang
dia lakukan pada anak kecil waktu itu, gadis itu hanya menatap jiwa orang
tersebut yang terbakar oleh api hitam. Gadis itu berjalan keluar dari ruangan
itu dengan tenang seolah tak pernah terjadi apa pun sebelumnya tanpa
memperdulikan dokter dan suster yang berjalan terburu-buru melewatinya. Tepat
saat gadis itu akan menghilang dibalik tikungan lorong yang menuju atap, Kris
pun mengikuti gadis itu dengan langkah yang sedikit terburu, entah karena apa
dia begitu penasaran dengan gadis tersebut. Hingga sampai di atap rumah sakit, Kris
melihat sosok itu tangah berdiri membelakangi Kris di atas pagar pembatas,
tangannya yang seputih porselen menjulur ke udara menyambut seekor burung gagak
yang hinggap dijemarinya yang lentik dan indah.
“Kau…siapa?” Tanya Kris pada akhirnya setelah
terdiam cukup lama.
“Aku pernah mendengar ada manusia yang bisa
melihat kami, tapi aku tak menyangka akan bertemu langsung.” Jawab Revena
dengan suara yang datar dan terkesan dingin.
“Aku pernah melihatmu beberapa kali dan
beberapa temanmu.” Ucap Kris sambil berjalan mendekat ke pagar pembatas.
“Jangan melompat di depan mataku,” ucap sang
malaikat tanpa menatap manusia disampingnya.
“Kau khawatir?” tanya sang manusia dengan
senyum dibibirnya.
“Tidak. Aku hanya tidak mau direpotkan jiwa
tak berguna.” Jawab sang malaikat dengan tenang dan menusuk.
“Yang tadi itu kenapa kau membakarnya?” tanya
sang manusia tanpa memperdulikan kata-kata tajam sang malaikat sebelumnya.
“Itu bukan urusanmu manusia.”
“Tadi, apakah kau juga berniat mengambil Lyli?”
“Maksudmu gadis yang sedang koma itu?”
“…”
“Hari ini belum saatnya dia kujemput.”
“Apa maksudmu?”
“Semua mahkluk yang hidup pasti akan pergi
juga pada akhirnya.”
“Sebenarnya, siapa namamu?” Dan tanpa menjawab
pertanyaan Kris, Revena mengembangkan sayapnya terbang dikegelapan malam kota Tokyo.
Meninggalkan beberapa helai bulunya yang terjatuh. Kris berjalan memungut salah
satu bulu hitam itu.
“Cantik, mungkin akan terlihat manis jika dia
tersenyum.” Ucap Kris yang kini tengah berjalan untuk kembali ke ruang rawat Lyli.
Aku
melihatnya…
Seorang
manusia yang bisa melihat kami
Seorang
manusia….
Yang
membuatku merasakan kasih sayang
Kasih
sayang & ketulusan yang begitu besar
Tapi
itu tak cukup untuk membuatnya sadar
Revena
POV
Satu minggu telah berlalu setelah pertemuan
kami, kami memang sering bertemu sebelumnya tapi tidak pernah sampai bicara.
Dia hanya melihatku dari kejauhan, melihatku melakukan tugas, menjemput jiwa.
Dia tidak terkejut maupun berteriak, dia hanya melihat dengan pandangan yang
menyiratkan kesedihan. Dan malam ini kami bertemu lagi tentunya tanpa
disengaja. Dia mengikutiku saat melihatku dan baru berhenti saat melihatku
tengah berdiri di pagar pembatas sebuah atap gedung yang tinggi.
“Kenapa mengikutiku?” tanyaku setelah kami
terdiam cukup lama.
“Hanya ingin bertemu denganmu dan menemanimu.”
Jawabnya dengan senyum tipis yang tersungging dibibrnya.
‘Menemani? Kenapa?’ tanyaku dalam hati.
“Karena kau terlihat kesepian.” Ucapnya seolah
dia bisa membaca apa yang aku pikirkan. Untuk sejenak aku tercenung karena
ucapannya.
“Aku tidak merasa kesepian,”
“Tapi setidaknya kau pasti butuh teman.”
Ucapmu dengan pandangan teduh.
“Aku tidak memerlukan teman.”
“Kenapa? Kau pasti akan merasa kesepian dan
sedihkan jika tidak ada teman?”
“Karena aku tak memiliki perasaan.” Jawabku
masih dengan suara dan ekspresi yang datar dan dingin.
‘Ya, aku tidak membutuhkan teman, dan
perasaanku pun telah beku, sebelum kau datang dan berbicara padaku.’ Lanjutku
dalam hati.
“Terserah saja, tapi aku akan mengikutimu dan
menemanimu saat aku melihatmu.” Putusmu dengan senyum yang terkembang
diwajahmu.
‘Dan sekarang kau telah merusak dinding
pembatas yang selama ini kubangun.’
“Jadi, bisa kau katakan siapa namamu
sekarang?” tanyamu dengan wajah penuh harap.
End
Revena POV
“Revena~.” Teriak sebuah suara dari arah
langit yang gelap, membuat Kris harus menutup telinga karena lengkingan suara
tadi, sementara Revena hanya memejamkan matanya berdo’a agar telinganya masih
berfungsi dengan baik setelah mendengar teriakan tadi.
“Revena, kau tahu aku berhasil lagi.” Ucap
sosok dengan sayap putih dan wajah yang ceria tak lupa nada suaranya yang
begitu bersemangat menghampiri sang malaikat kematian.
“Ayo pergi.” Ucap Revena dan langsung terbang
tanpa memperdulikan protes dari melaikat cinta tadi.
“Revena, kenapa pergi lagi? Valent kan baru
sampai.” Protes sang malaikat cinta.
“Jadi namanya Revena, nama yang indah.” Ucap Kris
berlalu meninggalkan atap dan seorang malaikat cinta yang terdiam menyadari
suatu hal, hal yang seharusnya tak boleh terjadi.
Saat kau menatapku dengan senyumanmu
Saat kau menyebut namaku dengan lembut
Dan saat kau memujiku dengan tulus
Saat itu aku tersadar
Bahwa aku telah…
Jatuh terlalu dalam
Satu bulan lebih telah berlalu Kris telah
berhasil menjadikan dirinya sebagai teman sang melaikat. Dan tanpa ia sadari,
sang malaikat telah terjatuh, terjatuh semakin dalam pada setiap waktunya. Saat
ini terlihat sang manusia dan sang malaikat tengah berdiri berdampingan,
seperti biasa sang malaikat lebih memilih untuk berdiri di atas pagar pembatas
atap gedung.
“Hei, Revena aku ingin bertanya sesuatu.” Ucap
sang manusia memecah keheningan yang terjadi sejak mereka sampai di tempat itu.
“Hn.”
“Saat kau mengambil mereka, maksudku jiwa-jiwa
itu, kenapa kau tak pernah terlihat sedih atau sejenisnya?”
“Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku
tidak memiliki perasaan.”
“Bohong, setiap mahkluk itu punya perasaan.”
“Kami diciptakan tanpa memiliki nafsu.”
“Tapi bukan berarti tak memiliki hati dan
perasaan.”
“Apa bedanya?”
“Tentu saja beda, perasaan itu didasari oleh
ketulusan sementara nafsu didasari oleh keinginan yang tak beralasan.”
“Menurutku sama saja.”
“Terserah kau saja, tapi itu pendapatku.”
“Lalu, kau dan gadis itu, disebut apa?” Tanya Revena
yang kini tengah menatap Kris.
“Tentu saja perasaan, perasaan sayang yang
begitu besar dan tulus, yang aku buktikan dengan kesetiaanku untuk tetap
menunggunya, tak peduli berapa lama, itulah namanya cinta.” Jawabnya sambil
tersenyum lebar ke arahmu.
“Lalu, jika pada akhirnya dia harus pergi?”
Tanya Revena lagi, matanya masih setia menatap Kris, memperhatikan ekspresi
wajah Kris yang berubah sedikit menegang.
“Apa…kau akan menjemputnya hari ini?” tanya Kris
dengan perasaan campur aduk.
“Aku bilang jika,”
“Jika dia pergi tanpa kata maka aku akan menyusulnya
detik berikutnya, jika dia memintaku hidup, aku akan hidup untuk mencintainya
sebagai bukti kesetian dan rasa cintaku padanya.”
“Aku tidak mengerti jalan pikiran manusia.”
“Aku juga tidak mengerti jalan pikiran
malaikat sepertimu.”
Kau
mengatakan kau mencintainya
Dan
menjadikan kesetianmu
Sebagai
bukti cintamu
Tapi
apakah itu cukup?
Tiga bulan telah berlalu sejak percakapan
terakhir mereka, dan sang malaikat telah terjerat dalam perasaan yang
terlarang. Hari berganti hari sang malaikat dan sang manusia menjadi lebih dekat, sang manusia
telah menganggap sang malaikat sebagai sahabatnya, tempat mencurahkan ceritannya
dengan gadis yang dicintainya, tentang perasaan cintanya pada sang terkasih.
Sementara sang malaikat hanya mendengarkan cerita yang sedikit demi sedikit
mencekiknya karena perasaannya pada sang manusia. Hingga akhirnya hari itu
tiba, sebuah kertas putih bertulis nama seorang anak manusia, yang kini tengah
berada di tangan sang malaikat.
BRAK
Sebuah pintu terbuka dengan kasar, tepat saat
seorang laki-laki bersurai almond melangkah dari pintu, mendekati sang malaikat
yang kini tengah berdiri membelakanginya.
“Hei manusia, siapa nama kekasihmu?” tanya
sang malaikat tanpa memalingkan pandangannya dari langit yang mulai tertutup
awan kelabu.
“Aku punya nama, jadi panggil aku Kris, Kris
Dawn ingat itu. Lalu kenapa kau tanya nama kekasihku?” jawab dan tanya Kris
yang kini tengah berdiri tepat tiga meter dibelakang sang malaikat.
“Jawab saja.”
“Lyli, namanya Lyli Winter.”
“Kau mencintainya?”
“Ya, sangat mecintainya.”
“Seberapa besar?”
“Aku tidak tahu seberapa besar, tapi jika ini
bisa dijadikan ukuran, menurutku nyawaku takkan sebanding dengan rasa sayang
dan cintaku padanya, akan kulakukan apa pun untuknya.” Jawab Kris tanpa
keraguan sedikit pun disetiap ucapannya.
“Jika aku mengatakan, hari ini adalah waktunya
untuk pergi…”
“Aku akan memohon padamu untuk membawaku
sebagai gantinya.” Potong Kris dengan cepat, bahkan sebelum sang malaikat
menyelesaikat ucapannya.
“Aku mengerti.” Jawab sang malaikat dengan
pelan, dan berjalan melewati Kris, meninggalkan Kris dengan selembar kertas
tergeletak di lantai.
Bagiku…
Kesetian takkan cukup
Tidak cukup untuk membuatmu sadar
Seberapa jauh aku telah terjatuh
Kris mengambil dan membaca kertas tersebut.
‘Mimpi, ini mimpi, katakan padaku ini hanya
mimpi.’ Itulah yang dirapalkan hati Kris saat membaca kertas tersebut, kertas
yang bertuliskan mimpi buruk baginya.
Name :
Lyli Winter
Genre :
Female
Date of Birth :
Tokyo, June, 23-1988
Date of Die :
Tokyo Hospital, September, 20-2012
Causes :
After coma by car accident
Tepat setelah membaca kertas tersebut Kris
langsung berlari menunuruni tangga menuju ruang rawat kekasihnya.
‘Kumohon, siapa pun katakan aku hanya bermimpi
buruk.’ Batin Kris yang kini mulai berkecamuk, air matanya menetes setiap
kakinya melangkah menuruni tangga, setiap kali membayangkan saat dia melihat
sang kekasih terkulai tak bernyawa.
Sementara itu, disebuah ruangan di rumah sakit
Tokyo. Berdiri seorang melaikat yang tengah menatap seorang gadis yang
terbaring dengan beberapa alat medis yang membelit sang gadis untuk menyongkong
kehidupannya.
“Cantik.” Ucap sang malaikat yang kini tengah
berdiri disamping ranjang sang gadis. Tangan sang malaikat bergerak menyentuh samping
wajah sang gadis menggunakan punggung tangan kanannya. Saat kulit mereka
bersentuhan detak jantung sang gadis melemah, terlihat pada alat pendeteksi
detak jantung disamping ranjang sang gadis, dan semakin melemah saat tangan
sang malaikat turun ke leher, dada, dan berhenti pada tempat sumber kehidupan
sang gadis. Tepat saat detak jantung sang gadis hampir berhenti, telapak tangan
sang malaikat yang kini berada diatas jantung sang gadis bersinar terang, mengembalikan
detak dibawah telapak tangan sang malaikat.
“Hidup, dan berbahagialah.” Ucap sang malaikat
yang kini tengah menundukkan wajahnya untuk menyentuhkan bibirnya dengan kening
sang gadis.
“Sampaikan kasih sayangku padanya.” Tepat
setelah itu cahaya itu meredup lalu menghilang.
Karena…
Segala hal yang ku lakukan
Tidak cukup untuk membuatnya tahu
How far I have been fall
Kaki itu melangkah secepat yang ia bisa,
melangkah sejauh yang ia bisa, dengan nafas terengah karena kelelahan berlari.
Dengan tangan bergetar dan air mata yang terus menetes, Kris meraih handel
pintu ruang rawat kekasihnya. Bersiap untuk melihat sang malaikat kematian
mengambil sang kekasih, walau sesungguhnya dia benar-benar tidak rela. Akan
tetapi saat daun pintu terbuka, punggung bersayap putihlah yang ia lihat bukan
sayap hitam.
“Kau…siapa?” tanya Kris pada sosok serba putih
tersebut.
Sosok itu berbalik, dengan senyum hangat nan
menyejukkan diwajahnya yang tampah teduh dan murni.
“Namaku Livy Light , malaikat kehidupan.”
Jawab sosok tersebut dengan suara yang terdengar lembut dan merdu bagai petikan
dawai harpa.
“Ta-tapi…bukankah Revena…” Kris tidak sanggup
melanjutkan kata-katanya, dia terlalu takut untuk mengucapkannya.
“Dia memilih untuk memberikan gadis ini
kesempatan, tapi Revena harus menukarnya dengan sesuatu yang sangat mahal.”
Ucap Hee Ji masih dengan senyum diwajahnya hanya saja senyum itu tampak sendu,
terlihat malaikat putih itu menatap sesuatu dilantai, helaian hitam dari sosok
seorang malaikat kematian.
“A…apa yang dilakukan Revena?” tanya Kris
dengan nada bergetar saat melihat helaian-helaian hitam di lantai tersebut.
Sang malaikat kehidupan tersebut hanya diam menatap dengan tatapan paling sendu
dan menyakitkan bagi orang yang melihatnya. Melihat tatapan itu Kris langsung
berlari meninggalkan ruang rawat itu. Entah apa yang membuatnya berlari secepat
itu, tapi ia yakin kemana dia harus pergi.
“Oh dear, betapa malangnya dirimu, kau
berkorban untuk seseorang yang bahkan tak menyadari seberapa besar kau
berkorban.” Ucap Hee Ji dengan tatapan sendu yang tertuju pada helaian sayap
hitam itu.
•
•
•
Sementara itu di atap rumah sakit Tokyo,
berdiri dua mahkluk terindah sang cupid dan sang malaikat kematian, mereka
saling berhadapan jarak mereka hanya terpisah satu langkah. Mereka saling
menatap, air mata mengalir dimata sang cupid. Dilain sisi sang malaikat
kematian hanya menatapnya dengan tatapan meminta maaf.
“Hiks…ke-kenapa…hiks…kenapa kau melakukan hal
ini?” tanya sang cupid yang berusaha menahan tangisnya namun gagal.
“Seorang cupid tidak cocok dengan air mata,
karena cupid selalu memberikan cinta pada mahkluk di bumi ini.” Ucap sang
malaikat kematian, tangannya terulur untuk menghapus air mata sang cupid. Sang
cupid lebih memilih untuk memeluk sang malaikat kematian.
“Aku tidak peduli hiks..aku tidak ingin Revena
pergi.” Ucap sang cupid, dia mengeratkan pelukannya, berharap itu bisa membuat Revena
untuk tetap tinggal, tapi ia tahu bahwa itu percuma.
“Maafkan aku.” Untuk pertama kalinya sang
malaikat kematian meminta maaf, tangannya bergerak membelai rambut sang cupid, Revena
baru menyadari bahwa sang cupid hanya setinggi dagunya.
“Kenapa?” Lagi sang cupid menanyakan alasan
sang malaikat kematian. Air matanya mengalir semakin deras saat menyadiri
helaian hitam yang terjatuh dari sayap hitam itu.
“Valent, kau ingat, kau pernah bertanya
padaku, menurutku cinta itu apa?” tanya sang malaikat kematian. Tangannya masih
setia membelai rambut sang cupid, dan helaian disekitar mereka semakin
bertambah. Sementara sang cupid hanya mengangguk sebagai jawabannya.
“Waktu itu aku tidak menjawab, karena aku
tidak tahu, tapi..ugh.” ucapan Revena terhenti oleh rasa sakit yang mendera
sayap dan punggungnya semakin menjadi-jadi hingga ia jatuh berlutut bersama
sang cupid yang masih setia memeluknya.
“Revena…hiks…Revena,” tangis sang cupid yang
merasakan sang malaikat kematian semakin melemah.
“Tapi kini aku tahu apa jawabannya, karena aku
juga merasakannya.” Lanjut Revena, mengabaikan rasa sakit yang dideranya, ia
bisa merasakan helaian dari sayapnya yang berguguran dan saat tak ada yang tersisa
dari helaian itu saat itulah dia akan menghilang. Ia mengalihkan pandangannya,
mentap seseorang laki-laki yang kini tengah berdiri diambang pintu menuju ke atap,
yang tengah menatapnya dengan nanar.
“Menurutku…”
Karena…
Kasih sayang, Ketulusan, Dan kesetiaanku,
Tidak cukup untuk membuatnya menyadari
perasaanku
“Cinta itu membutuhkan pengorbanan yang
setara.” Lanjut Revena dengan senyum yang menghiasi bibirnya, senyum pertamanya
dan yang terakhir. Dan untuk pertama kalinya mata itu menunjukkan perasaannya
dalam bentuk air mata, air mata pertama dan terakhir.
“Tidak…hiks…kumohon jangan pergi…hiks.” Tangis
sang cupid kembali pecah saat dirasakannya tubuh sang malaikat kematian mulai
memudar diantara rintik hujan yang mulai turun.
Kris
POV
Aku melihatnya, sosok yang selalu terlihat
kuat dan tegar itu, kini tengah meregangnya dan akulah penyebabnya. Dia sedang
menatapku, untuk pertama kalinya aku melihat mata itu menatap dengan lembut
tapi terlihat begitu menyesakkan, bibir itu masih berusaha menunjukkan
senyumnya, senyum kebahagian dan senyum perpisahan. Sayap yang kokoh itu kini
tampak begitu menyedihkan, dan tubuh itu mulai memudar menjadi debu. Detik
terakhir sebelum tubuh itu memudar sepenuhnya, aku dapat melihat bibirnya
bergerak mengucapkan sebuah kalimat yang membuatku merasa begitu bodoh, dan
berdosa.
End
POV
Sang malaikat kematian hanya tersenyum,
bibirnya bergerak tanpa suara mengucapkan kalimat yang selama ini ia pendam.
‘Aku mencintaimu…’
Tepat setelah itu sang malaikat kematian menghilang
bersamaan dengan langit yang ikut menangis, mengiringi kepergian sang malaikat.
“REVENA!!!” teriak sang cupid dan sang
manusia, saat menyadari sosok sang malaikat kematian telah menghilang
sepenuhnya. Meninggalkan
helaian hitam yang terbang terbawa angin. Menyisakan seorang cupid yang tengah
menangisi nasib temannya sang malaikat kematian yang terjatuh menjadi The
fallen angel dan hilang.
Karena…
Aku harus berkorban
Untuk membuatnya tahu
Seberapa besar aku mencintainya
Dan…
Seberapa jauh aku telah terjatuh
THE END