Jumat, 16 November 2018


Title: Angel
Genre: Supernatural, Romance, Angst,
Rating: T
Disclaimer: SAY
Character:       Revena Feather as The Angel of Death/Raven
                        Valent Rose as Cupid
                        Livy Light as The Angel of Live
                        Kris Dawn as human
                        Lily Winteras woman
                        Etc
Summary: “ Valent cinta itu apa?” “Cinta adalah perasaan yang tumbuh karena rasa sayang yang begitu besar dan tulus.” / “Emm, menurutku, cinta itu adalah Kesetian. Lalu bagaimana menurutmu.” / “Bagiku cinta adalah pengorbanan.”

Happy Read
Don’t Like, Don’t Read
Cinta…
Perasaan yang begitu dieluk-eluk oleh manusia,
Tapi mereka tidak pernah mengerti akan artinya,
Dan tidak pernah ingin mencari tahu,
Menurutmu….
Cinta itu apa?
Malam yang suram dan dingin, sedingin ekspresi seorang gadis yang sedang berdiri (hinggap lebih tepatnya) di puncak Highest Tower dengan sayap, ya kalian tidak salah, ada sayap hitam yang kokoh nan anggun sewarna dengan surai dan gaun yang menutupi seluruh tubuhnya, senyum tak pernah tersungging dibibirnya yang pink nan lembut, air mata tak pernah mengalir dari matanya yang tajam, wajah dingin namun terlihat cantik disaat yang sama. Ya dialah sang malaikat kematian.
“Revena, Revena, Revena.” Panggil sosok lain dengan sayap putih dan wajah yang ceria tak lupa nada suaranya yang begitu bersemangat menghampiri sang malaikat kematian.
“Hn?” Revena hanya menjawab seadaanya.
“Kau tahu aku berhasil menyatukan satu pasangan lagi.” Kata sang malikat bersayap putih/cupid.
“Apa mereka saling mencintai?”
“Hm, tentu.” Jawab Hye Valentpenuh keyakinan tak lupa dengan anggukan kepala yang antusias.
“Valent, menurutmu cinta itu apa?” Tanya Revena dengan mata yang masih mengawasi kegiatan para manusia dibawah menara tersebut.
“Cinta adalah perasaan yang tumbuh karena rasa sayang yang begitu besar dan tulus.” Jawan Valent dengan nada yang kelewat ceria.
“Hn,  aku harus pergi sekarang, Valent.” Sahut Revena dengan sayapnya yang sudah terentang dengan indahnya.
“Oh, kali ini siapa yang akan kau jemput?” Tanya Valent a.k.a cupid. Namun Revena hanya diam dan langsung pergi.
“Hu~uh, dasar Revena.” Gerutu Hye Valentdan langsung terbang entah kemana.
Ya, Kasih sayang yang begitu besar & ketulusan
Itu juga cinta…
Tapi apa itu cukup?
Kris Dawn POV
‘Ha~h, semoga Lily menyukai bunga ini.’ Ucapku dalam hati, dengan langkah panjang aku menyusuri jalanan menuju rumah sakit Tokyo.
 Lily Winter adalah kekasihku, dia dirawat disana setelah mengalami kecelakaan tiga bulan lalu, dia masih koma hingga sekarang, tapi aku akan tetap menunggunya, karena aku sangat menyayangi dan mencintainya. Namun aku bertemu dengannya, gadis yang selalu memakai gaun hitam dan sayap indah di punggungya. Dia berdiri di depan seorang anak laki-laki yang terbaring bersimbah darah di jalan raya kerena tertabrak mobil. Gadis itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh anak laki-laki itu atau lebih tepatnya jiwanya. Tak ada yang menyadari keberadaan mereka, bukan karena malam yang gelap, tapi karena meraka tak bisa dilihat oleh orang biasa. Aku bisa melihatnya, tentu karena ini bukan yang pertama kali aku melihatnya, tapi ekspressinya tak pernah berubah, selalu dingin dan tajam. Dia membentangkan sayapnya, merengkuh tubuh anak kecil itu hingga tertutup sepenuhnya. Angin berhembus, dingin, tapi menenangkan saat sayapnya kembali terbantang, sayap hitam yang kokoh terlihat indah dan menakutkan disaat yang bersamaan dan anak laki-laki itu menghilang bersamaan dengan bentangan sayap sang malaikat. Lalu aku melanjutkan langkah kakiku kembali setelah dia menghilang.
“Selamat malam Lyli, aku datang lagi.” Ucap ku saat sudah sampai diruang rawat kekasihku. Aku tahu dia tidak akan menjawab pertanyaanku, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia tahu aku akan  selalu menunggunya.
“Lyli, kau tahu, tadi aku melihat gadis itu lagi.” Kataku sambil mengusap surai hitamnya yang penjang dan tetap terlihat indah meski dia dalam keadaan sakit.
“……”
“Setiap melihatnya, aku selalu teringat padamu.” Kali ini aku mengusap pipinya yang terlihat lebih tirus dan pucat, tapi dia masih tetap cantik.
‘Dan akan selalu menjadi yang tercantik dalam hatiku.’ Ucap Kris dalam hati.
“……”
“Aku takut dia datang padamu, aku tidak ingin berpisah denganmu.”
“…….”
End POV
“Karena, aku terlalu mencintaimu.” Ucap Kris, dia meraih tangan Lily dan mengecupnya lembut, penuh akan kasih sayang. Setelahnya Kris mengecup kening Lyli.
“Selamat malam, mimpi indah, tuan putriku.” Ucap Kris setelah mengecup kening Lyli, dia pun berjalan menuju sofa panjang yang ada diruangan itu, membaringkan tubuhnya dan berkelana kealam mimpi.
ϗ
ϗ
ϗ
Kris terbangun saat tengah malam, dia haus, namun sayang sepertinya petugas rumah sakit lupa mengisi ulang tempat air mineral dirungan ini. Kris pun memilih keluar kamar untuk membeli minuman dimesin minuman dekat lobi. Saat Kris ingin mengambil minuman yang diinginkan, dia melihat sesosok gadis, gadis yang sering dia lihat, gadis yang selalu memakai gaun hitam, gadis yang tak pernah berekspresi lembut, gadis dengan sayap hitam yang cantik dan menakutkan disaat yang sama, gadis itu sang malaikat penjemput nyawa. Sesaat Kris terkejut saat gadis itu melewatinya dan Kris baru sadar saat melihat arah yang dituju gadis itu, arah lorong ruang rawat Lyli. Kris segera berlari menyusul gadis tadi dan dapat dilihatnya gadis itu tengah berdiri di depan ruangan Lyli. Jantung Kris berdetak tidak karuan, memikirkan berbagai kemungkinan terburuk, tidak, dia belum siap dan tak akan pernah siap untuk kehilangan Lyli. Gadis itu menoleh ke arah ruang rawat Lyli, untuk sesaat Kris merasa jantungnya berhenti berdetak, nafasnya terasa begitu sesak, hatinya terasa sakit, beginikah rasanya jika akan kehilangan orang yang akan kita cintai tepat didepan mata kita? Gadis itu sempat melirik Kris, lalu berbalik menuju ruangan yang ada di depan ruangan Lyli. Tak beberapa lama setelah gadis itu masuk, terdengar tangis wanita yang berusaha memanggil suaminya.
“Hiks…sayang, bangun sayang, jangan tinggalkan aku…hiks…DOKTER, DOKTER, hiks sayang bangun…” seorang wanita paruh baya itu terus menangis sambil memeluk tubuh suaminya yang kini mulai kejang, melemah dan mendingin.
 Kris berlari menuju pintu tersebut, sesampainya dia didepan pintu dapat ia lihat gadis itu tengah mengambilnya, seorang lelaki tua dengan cara memasukkan dua jari tangannya dan menarik sebuah jiwa, ekspresi gadis itu terlihat lebih dingin dari sebelumnya, setelah jiwa itu terambil dia tidak memeluknya seperti yang dia lakukan pada anak kecil waktu itu, gadis itu hanya menatap jiwa orang tersebut yang terbakar oleh api hitam. Gadis itu berjalan keluar dari ruangan itu dengan tenang seolah tak pernah terjadi apa pun sebelumnya tanpa memperdulikan dokter dan suster yang berjalan terburu-buru melewatinya. Tepat saat gadis itu akan menghilang dibalik tikungan lorong yang menuju atap, Kris pun mengikuti gadis itu dengan langkah yang sedikit terburu, entah karena apa dia begitu penasaran dengan gadis tersebut. Hingga sampai di atap rumah sakit, Kris melihat sosok itu tangah berdiri membelakangi Kris di atas pagar pembatas, tangannya yang seputih porselen menjulur ke udara menyambut seekor burung gagak yang hinggap dijemarinya yang lentik dan indah.
“Kau…siapa?” Tanya Kris pada akhirnya setelah terdiam cukup lama.
“Aku pernah mendengar ada manusia yang bisa melihat kami, tapi aku tak menyangka akan bertemu langsung.” Jawab Revena dengan suara yang datar dan terkesan dingin.
“Aku pernah melihatmu beberapa kali dan beberapa temanmu.” Ucap Kris sambil berjalan mendekat ke pagar pembatas.
“Jangan melompat di depan mataku,” ucap sang malaikat tanpa menatap manusia disampingnya.
“Kau khawatir?” tanya sang manusia dengan senyum dibibirnya.
“Tidak. Aku hanya tidak mau direpotkan jiwa tak berguna.” Jawab sang malaikat dengan tenang dan menusuk.
“Yang tadi itu kenapa kau membakarnya?” tanya sang manusia tanpa memperdulikan kata-kata tajam sang malaikat sebelumnya.
“Itu bukan urusanmu manusia.”
“Tadi, apakah kau juga berniat mengambil Lyli?”
“Maksudmu gadis yang sedang koma itu?”
“…”
“Hari ini belum saatnya dia kujemput.”
“Apa maksudmu?”
“Semua mahkluk yang hidup pasti akan pergi juga pada akhirnya.”
“Sebenarnya, siapa namamu?” Dan tanpa menjawab pertanyaan Kris, Revena mengembangkan sayapnya terbang dikegelapan malam kota Tokyo. Meninggalkan beberapa helai bulunya yang terjatuh. Kris berjalan memungut salah satu bulu hitam itu.
“Cantik, mungkin akan terlihat manis jika dia tersenyum.” Ucap Kris yang kini tengah berjalan untuk kembali ke ruang rawat Lyli.
Aku melihatnya…
Seorang manusia yang bisa melihat kami
Seorang manusia….
Yang membuatku merasakan kasih sayang
Kasih sayang & ketulusan yang begitu besar
Tapi itu tak cukup untuk membuatnya sadar
Revena POV
Satu minggu telah berlalu setelah pertemuan kami, kami memang sering bertemu sebelumnya tapi tidak pernah sampai bicara. Dia hanya melihatku dari kejauhan, melihatku melakukan tugas, menjemput jiwa. Dia tidak terkejut maupun berteriak, dia hanya melihat dengan pandangan yang menyiratkan kesedihan. Dan malam ini kami bertemu lagi tentunya tanpa disengaja. Dia mengikutiku saat melihatku dan baru berhenti saat melihatku tengah berdiri di pagar pembatas sebuah atap gedung yang tinggi.
“Kenapa mengikutiku?” tanyaku setelah kami terdiam cukup lama.
“Hanya ingin bertemu denganmu dan menemanimu.” Jawabnya dengan senyum tipis yang tersungging dibibrnya.
‘Menemani? Kenapa?’ tanyaku dalam hati.
“Karena kau terlihat kesepian.” Ucapnya seolah dia bisa membaca apa yang aku pikirkan. Untuk sejenak aku tercenung karena ucapannya.
“Aku tidak merasa kesepian,”
“Tapi setidaknya kau pasti butuh teman.” Ucapmu dengan pandangan teduh.
“Aku tidak memerlukan teman.”
“Kenapa? Kau pasti akan merasa kesepian dan sedihkan jika tidak ada teman?”
“Karena aku tak memiliki perasaan.” Jawabku masih dengan suara dan ekspresi yang datar dan dingin.
‘Ya, aku tidak membutuhkan teman, dan perasaanku pun telah beku, sebelum kau datang dan berbicara padaku.’ Lanjutku dalam hati.
“Terserah saja, tapi aku akan mengikutimu dan menemanimu saat aku melihatmu.” Putusmu dengan senyum yang terkembang diwajahmu.
‘Dan sekarang kau telah merusak dinding pembatas yang selama ini kubangun.’
“Jadi, bisa kau katakan siapa namamu sekarang?” tanyamu dengan wajah penuh harap.
End Revena POV
“Revena~.” Teriak sebuah suara dari arah langit yang gelap, membuat Kris harus menutup telinga karena lengkingan suara tadi, sementara Revena hanya memejamkan matanya berdo’a agar telinganya masih berfungsi dengan baik setelah mendengar teriakan tadi.
“Revena, kau tahu aku berhasil lagi.” Ucap sosok dengan sayap putih dan wajah yang ceria tak lupa nada suaranya yang begitu bersemangat menghampiri sang malaikat kematian.
“Ayo pergi.” Ucap Revena dan langsung terbang tanpa memperdulikan protes dari melaikat cinta tadi.
“Revena, kenapa pergi lagi? Valent kan baru sampai.” Protes sang malaikat cinta.
“Jadi namanya Revena, nama yang indah.” Ucap Kris berlalu meninggalkan atap dan seorang malaikat cinta yang terdiam menyadari suatu hal, hal yang seharusnya tak boleh terjadi.
Saat kau menatapku dengan senyumanmu
Saat kau menyebut namaku dengan lembut
Dan saat kau memujiku dengan tulus
Saat itu aku tersadar
Bahwa aku telah…
Jatuh terlalu dalam
Satu bulan lebih telah berlalu Kris telah berhasil menjadikan dirinya sebagai teman sang melaikat. Dan tanpa ia sadari, sang malaikat telah terjatuh, terjatuh semakin dalam pada setiap waktunya. Saat ini terlihat sang manusia dan sang malaikat tengah berdiri berdampingan, seperti biasa sang malaikat lebih memilih untuk berdiri di atas pagar pembatas atap gedung.
“Hei, Revena aku ingin bertanya sesuatu.” Ucap sang manusia memecah keheningan yang terjadi sejak mereka sampai di tempat itu.
“Hn.”
“Saat kau mengambil mereka, maksudku jiwa-jiwa itu, kenapa kau tak pernah terlihat sedih atau sejenisnya?”
“Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku tidak memiliki perasaan.”
“Bohong, setiap mahkluk itu punya perasaan.”
“Kami diciptakan tanpa memiliki nafsu.”
“Tapi bukan berarti tak memiliki hati dan perasaan.”
“Apa bedanya?”
“Tentu saja beda, perasaan itu didasari oleh ketulusan sementara nafsu didasari oleh keinginan yang tak beralasan.”
“Menurutku sama saja.”
“Terserah kau saja, tapi itu pendapatku.”
“Lalu, kau dan gadis itu, disebut apa?” Tanya Revena yang kini tengah menatap Kris.
“Tentu saja perasaan, perasaan sayang yang begitu besar dan tulus, yang aku buktikan dengan kesetiaanku untuk tetap menunggunya, tak peduli berapa lama, itulah namanya cinta.” Jawabnya sambil tersenyum lebar ke arahmu.
“Lalu, jika pada akhirnya dia harus pergi?” Tanya Revena lagi, matanya masih setia menatap Kris, memperhatikan ekspresi wajah Kris yang berubah sedikit menegang.
“Apa…kau akan menjemputnya hari ini?” tanya Kris dengan perasaan campur aduk.
“Aku bilang jika,”
“Jika dia pergi tanpa kata maka aku akan menyusulnya detik berikutnya, jika dia memintaku hidup, aku akan hidup untuk mencintainya sebagai bukti kesetian dan rasa cintaku padanya.”
“Aku tidak mengerti jalan pikiran manusia.”
“Aku juga tidak mengerti jalan pikiran malaikat sepertimu.”
Kau mengatakan kau mencintainya
Dan menjadikan kesetianmu
Sebagai bukti cintamu
Tapi apakah itu cukup?
Tiga bulan telah berlalu sejak percakapan terakhir mereka, dan sang malaikat telah terjerat dalam perasaan yang terlarang. Hari berganti hari sang malaikat dan sang  manusia menjadi lebih dekat, sang manusia telah menganggap sang malaikat sebagai sahabatnya, tempat mencurahkan ceritannya dengan gadis yang dicintainya, tentang perasaan cintanya pada sang terkasih. Sementara sang malaikat hanya mendengarkan cerita yang sedikit demi sedikit mencekiknya karena perasaannya pada sang manusia. Hingga akhirnya hari itu tiba, sebuah kertas putih bertulis nama seorang anak manusia, yang kini tengah berada di tangan sang malaikat.
BRAK
Sebuah pintu terbuka dengan kasar, tepat saat seorang laki-laki bersurai almond melangkah dari pintu, mendekati sang malaikat yang kini tengah berdiri membelakanginya.
“Hei manusia, siapa nama kekasihmu?” tanya sang malaikat tanpa memalingkan pandangannya dari langit yang mulai tertutup awan kelabu.
“Aku punya nama, jadi panggil aku Kris, Kris Dawn ingat itu. Lalu kenapa kau tanya nama kekasihku?” jawab dan tanya Kris yang kini tengah berdiri tepat tiga meter dibelakang sang malaikat.
“Jawab saja.”
“Lyli, namanya Lyli Winter.”
“Kau mencintainya?”
“Ya, sangat mecintainya.”
“Seberapa besar?”
“Aku tidak tahu seberapa besar, tapi jika ini bisa dijadikan ukuran, menurutku nyawaku takkan sebanding dengan rasa sayang dan cintaku padanya, akan kulakukan apa pun untuknya.” Jawab Kris tanpa keraguan sedikit pun disetiap ucapannya.
“Jika aku mengatakan, hari ini adalah waktunya untuk pergi…”
“Aku akan memohon padamu untuk membawaku sebagai gantinya.” Potong Kris dengan cepat, bahkan sebelum sang malaikat menyelesaikat ucapannya.
“Aku mengerti.” Jawab sang malaikat dengan pelan, dan berjalan melewati Kris, meninggalkan Kris dengan selembar kertas tergeletak di lantai.
Bagiku…
Kesetian takkan cukup
Tidak cukup untuk membuatmu sadar
Seberapa jauh aku telah terjatuh
Kris mengambil dan membaca kertas tersebut.
‘Mimpi, ini mimpi, katakan padaku ini hanya mimpi.’ Itulah yang dirapalkan hati Kris saat membaca kertas tersebut, kertas yang bertuliskan mimpi buruk baginya.
Name                 : Lyli Winter
Genre                 : Female
Date of Birth      : Tokyo, June, 23-1988
Date of Die        : Tokyo Hospital, September, 20-2012
Causes               : After coma by car accident
Tepat setelah membaca kertas tersebut Kris langsung berlari menunuruni tangga menuju ruang rawat kekasihnya.
‘Kumohon, siapa pun katakan aku hanya bermimpi buruk.’ Batin Kris yang kini mulai berkecamuk, air matanya menetes setiap kakinya melangkah menuruni tangga, setiap kali membayangkan saat dia melihat sang kekasih terkulai tak bernyawa.
Sementara itu, disebuah ruangan di rumah sakit Tokyo. Berdiri seorang melaikat yang tengah menatap seorang gadis yang terbaring dengan beberapa alat medis yang membelit sang gadis untuk menyongkong kehidupannya.
“Cantik.” Ucap sang malaikat yang kini tengah berdiri disamping ranjang sang gadis. Tangan sang malaikat bergerak menyentuh samping wajah sang gadis menggunakan punggung tangan kanannya. Saat kulit mereka bersentuhan detak jantung sang gadis melemah, terlihat pada alat pendeteksi detak jantung disamping ranjang sang gadis, dan semakin melemah saat tangan sang malaikat turun ke leher, dada, dan berhenti pada tempat sumber kehidupan sang gadis. Tepat saat detak jantung sang gadis hampir berhenti, telapak tangan sang malaikat yang kini berada diatas jantung sang gadis bersinar terang, mengembalikan detak dibawah telapak tangan sang malaikat.
“Hidup, dan berbahagialah.” Ucap sang malaikat yang kini tengah menundukkan wajahnya untuk menyentuhkan bibirnya dengan kening sang gadis.
“Sampaikan kasih sayangku padanya.” Tepat setelah itu cahaya itu meredup lalu menghilang.
Karena…
Segala hal yang ku lakukan
Tidak cukup untuk membuatnya tahu
How far I have been fall
Kaki itu melangkah secepat yang ia bisa, melangkah sejauh yang ia bisa, dengan nafas terengah karena kelelahan berlari. Dengan tangan bergetar dan air mata yang terus menetes, Kris meraih handel pintu ruang rawat kekasihnya. Bersiap untuk melihat sang malaikat kematian mengambil sang kekasih, walau sesungguhnya dia benar-benar tidak rela. Akan tetapi saat daun pintu terbuka, punggung bersayap putihlah yang ia lihat bukan sayap hitam.
“Kau…siapa?” tanya Kris pada sosok serba putih tersebut.
Sosok itu berbalik, dengan senyum hangat nan menyejukkan diwajahnya yang tampah teduh dan murni.
“Namaku Livy Light , malaikat kehidupan.” Jawab sosok tersebut dengan suara yang terdengar lembut dan merdu bagai petikan dawai harpa.
“Ta-tapi…bukankah Revena…” Kris tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, dia terlalu takut untuk mengucapkannya.
“Dia memilih untuk memberikan gadis ini kesempatan, tapi Revena harus menukarnya dengan sesuatu yang sangat mahal.” Ucap Hee Ji masih dengan senyum diwajahnya hanya saja senyum itu tampak sendu, terlihat malaikat putih itu menatap sesuatu dilantai, helaian hitam dari sosok seorang malaikat kematian.
“A…apa yang dilakukan Revena?” tanya Kris dengan nada bergetar saat melihat helaian-helaian hitam di lantai tersebut. Sang malaikat kehidupan tersebut hanya diam menatap dengan tatapan paling sendu dan menyakitkan bagi orang yang melihatnya. Melihat tatapan itu Kris langsung berlari meninggalkan ruang rawat itu. Entah apa yang membuatnya berlari secepat itu, tapi ia yakin kemana dia harus pergi.
“Oh dear, betapa malangnya dirimu, kau berkorban untuk seseorang yang bahkan tak menyadari seberapa besar kau berkorban.” Ucap Hee Ji dengan tatapan sendu yang tertuju pada helaian sayap hitam itu.
•
•
•
Sementara itu di atap rumah sakit Tokyo, berdiri dua mahkluk terindah sang cupid dan sang malaikat kematian, mereka saling berhadapan jarak mereka hanya terpisah satu langkah. Mereka saling menatap, air mata mengalir dimata sang cupid. Dilain sisi sang malaikat kematian hanya menatapnya dengan tatapan meminta maaf.
“Hiks…ke-kenapa…hiks…kenapa kau melakukan hal ini?” tanya sang cupid yang berusaha menahan tangisnya namun gagal.
“Seorang cupid tidak cocok dengan air mata, karena cupid selalu memberikan cinta pada mahkluk di bumi ini.” Ucap sang malaikat kematian, tangannya terulur untuk menghapus air mata sang cupid. Sang cupid lebih memilih untuk memeluk sang malaikat kematian.
“Aku tidak peduli hiks..aku tidak ingin Revena pergi.” Ucap sang cupid, dia mengeratkan pelukannya, berharap itu bisa membuat Revena untuk tetap tinggal, tapi ia tahu bahwa itu percuma.
“Maafkan aku.” Untuk pertama kalinya sang malaikat kematian meminta maaf, tangannya bergerak membelai rambut sang cupid, Revena baru menyadari bahwa sang cupid hanya setinggi dagunya.
“Kenapa?” Lagi sang cupid menanyakan alasan sang malaikat kematian. Air matanya mengalir semakin deras saat menyadiri helaian hitam yang terjatuh dari sayap hitam itu.
“Valent, kau ingat, kau pernah bertanya padaku, menurutku cinta itu apa?” tanya sang malaikat kematian. Tangannya masih setia membelai rambut sang cupid, dan helaian disekitar mereka semakin bertambah. Sementara sang cupid hanya mengangguk sebagai jawabannya.
“Waktu itu aku tidak menjawab, karena aku tidak tahu, tapi..ugh.” ucapan Revena terhenti oleh rasa sakit yang mendera sayap dan punggungnya semakin menjadi-jadi hingga ia jatuh berlutut bersama sang cupid yang masih setia memeluknya.
“Revena…hiks…Revena,” tangis sang cupid yang merasakan sang malaikat kematian semakin melemah.
“Tapi kini aku tahu apa jawabannya, karena aku juga merasakannya.” Lanjut Revena, mengabaikan rasa sakit yang dideranya, ia bisa merasakan helaian dari sayapnya yang berguguran dan saat tak ada yang tersisa dari helaian itu saat itulah dia akan menghilang. Ia mengalihkan pandangannya, mentap seseorang laki-laki yang kini tengah berdiri diambang pintu menuju ke atap, yang tengah menatapnya dengan nanar.
“Menurutku…”
Karena…
Kasih sayang, Ketulusan, Dan kesetiaanku,
Tidak cukup untuk membuatnya menyadari perasaanku
“Cinta itu membutuhkan pengorbanan yang setara.” Lanjut Revena dengan senyum yang menghiasi bibirnya, senyum pertamanya dan yang terakhir. Dan untuk pertama kalinya mata itu menunjukkan perasaannya dalam bentuk air mata, air mata pertama dan terakhir.
“Tidak…hiks…kumohon jangan pergi…hiks.” Tangis sang cupid kembali pecah saat dirasakannya tubuh sang malaikat kematian mulai memudar diantara rintik hujan yang mulai turun.
Kris POV
Aku melihatnya, sosok yang selalu terlihat kuat dan tegar itu, kini tengah meregangnya dan akulah penyebabnya. Dia sedang menatapku, untuk pertama kalinya aku melihat mata itu menatap dengan lembut tapi terlihat begitu menyesakkan, bibir itu masih berusaha menunjukkan senyumnya, senyum kebahagian dan senyum perpisahan. Sayap yang kokoh itu kini tampak begitu menyedihkan, dan tubuh itu mulai memudar menjadi debu. Detik terakhir sebelum tubuh itu memudar sepenuhnya, aku dapat melihat bibirnya bergerak mengucapkan sebuah kalimat yang membuatku merasa begitu bodoh, dan berdosa.
End POV
Sang malaikat kematian hanya tersenyum, bibirnya bergerak tanpa suara mengucapkan kalimat yang selama ini ia pendam.
‘Aku mencintaimu…’
Tepat setelah itu sang malaikat kematian menghilang bersamaan dengan langit yang ikut menangis, mengiringi kepergian sang malaikat.
“REVENA!!!” teriak sang cupid dan sang manusia, saat menyadari sosok sang malaikat kematian telah menghilang sepenuhnya. Meninggalkan helaian hitam yang terbang terbawa angin. Menyisakan seorang cupid yang tengah menangisi nasib temannya sang malaikat kematian yang terjatuh menjadi The fallen angel dan hilang.
Karena…
Aku harus berkorban
Untuk membuatnya tahu
Seberapa besar aku mencintainya
Dan…
Seberapa jauh aku telah terjatuh

THE END